Dirjen Jenderal Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan Sunaryo, masih belum dapat bernafas lega. Di tengah upaya mewujudkan zero accident, kecelakaan kapal di laut silih berganti datang.
Pada bulan Maret misalnya, terjadi tabrakan antara Kapal Motor Rimba III bertabrakan dengan Harapan Indah, di perairan Pulau Damar, Kepulauan Seribu. Pada Kamis dinihari itu, Kapal Motor Rimba III bertolak dari Tanjung Priok menuju Belawan mengangkut semen. Sementara Tug Boat Harapan Indah 7 sedang menarik tongkang pasir dari Belitung menuju Marunda.
Tepat pada koordinat 05.54.07 S - 106.48.07 E atau tepatnya 4,5 mil barat laut Pulau Damar keduanya bertabrakan. Menurut keterangan sejumlah anak buah kapal (ABK) KM Rimba Segara III yang selamat, saat kejadian para penumpang tengah shalat dan persiapan istirahat. Tiba-tiba KM Rimba Segara III yang bermuatan kargo semen GT 3376 ditabrak tugboat Harapan Indah 7 yang menarik kapal tongkang.
Menurut versi nakhoda Tugboat, sebelum kejadian posisi kedua kapal saling berhadapan. Ia mengaku telah menyalakan lampu dan berkali-kali melakukan panggilan melalui VHF namun tidak ada jawaban. Untuk menghindari tabrakan, nakhoda tugboat berupaya membanting kemudi ke kiri. Sayang, upayanya gagal. KM. Rimba III terus melaju, dan akhirnya tabrakan pun tak terhindarkan. KM Rimba Segara III pun oleng dan perlahan mulai tenggelam. Tak mengeherankan jika korban lebih banyak berasal dari kapal tersebut.
Sejumlah barang perlengkapan kapal, seperti sekoci dan dayung serta tumpahan minyak, ditemukan tim pencari yang terdiri atas Polair dan Basarnas di perairan yang berjarak 12 mil dari Jakarta.
KM Rimba Segara III yang tenggelam di perairan Kepulauan Seribu akhirnya berhasil ditemukan oleh KRI Viper sekitar pukul 17.20 WIB, Kamis (5/3). Penemuan ini tak terlepas dari bantuan nelayan yang memberikan informasi.
Informasi keberadaan kapal kargo tersebut awalnya berasal dari perahu nelayan Sri Reok yang datang menghampiri KRI Viper dan memberitahu posisi bangkai kapal. Lalu KRI Viper bersama kapal penyelam bergerak menuju titik yang dimaksud dengan dipandu Sri Reok.
Dari kejauhan, serangkai logam berbentuk lingkaran yang merupakan antena radar KM Rimba Segara III terlihat di atas permukaan laut. Posisi kapal diketahui berada di 05,55 52' Lintang Selatan dan 106,51 39' Bujur Timur, atau sekitar 1,9 mil di 20 derajat sebelah timur laut Pulau Damar.
Setelah itu, para penyelam turun memeriksa kondisi bangkai kapal. Tak berapa berselang, sekitar pukul 17.30 WIB, penyelam berhasil menemukan sesosok mayat pria yang diperkirakan berusia 50 tahun. Korban ditemukan dari dalam bangkai kapal dengan kondisi mengenakan celana pendek.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Sunaryo menduga tabrakan antara KM Rimba Segara III dengan Tug Boat Harapan Indah 7 disebabkan kesalahan manusia ({human error}). Sebab, saat kecelakaan terjadi, cuaca dalam kondisi cerah.
Sunaryo mengatakan kecelakaan ini terkait dengan profesionalitas pelaut. Ia yakin, pelaut telah memenuhi syarat. Dirjen Hubla itu menyayangkan kejadian tersebut. Jika para awak kapal tidak lengah, semestinya kejadian tersebut dapat dicegah. Mantan pelaut itu mengaku tingkat kesiagaan pelaut di malam hari cenderung menurun. "Bisa jadi human error, tapi kami lihat dulu hasil Komite Nasional Keselamatan Transportasi," ujarnya.
Menurut aturan, KM Rimba Segara III seharusnya wajib menghindari Harapan Indah sebab kemampuan manuver tug boat terbatas. "Saya kecewa. Tak perlu tabrakan karena lautnya luas," tegasnya. Selain itu, lanjut Sunaryo, meski tanpa alat navigasi yang canggih, pelaut telah terlatih untuk melihat kondisi perairan dengan jarak pandang 3-4 mil di malam hari.
Di penghujung April, kecelakaan di laut kembali terjadi. Sebuah kapal pompong yang sarat muatan tenggelam di perairan Dumai. Kapal ini adalah kapal yang biasa digunakan untuk mencari ikan. Namun saat kejadian itu, sebuah keluarga menyewa kapal pompong untuk menghadiri acara adat pernikahan. Entah mengapa mereka justru memilih kapal pompong yang justru biasa digunakan untuk mencari ikan.
Kapal ini semula akan bertolak menuju Pulau Rupat di kawasan Selat Malaka, Kabupaten Bengkalis. Kapal bertolak dari Desa Mundam, Kecamatan Medang Kampai. Malang tak dapat ditolak, belum sampai ditujuan, kapal ini justru mengalami kebocoran hingga akhirnya tenggelam sekitar pukul 16.30 WIB, Sabtu (25/4). Korban pun berjatuhan. Bahkan yang menyedihkan satu korban ditemukan. Sebagian tubuhnya telah dimakan Ikan.
Di bulan Mei, juga terjadi tabrakan kapal KM Tanto Niaga dan Mitra Ocean di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, (22/5). Meski tidak ada korban jiwa, namun tumpahnya 45 kontainer tanpa isi yang diangkut Tanto Niaga sempat menghambat kelancaran lalu lintas perlayaran di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak.
Kronologi peristiwa itu bermula ketika kapal kargo Tanto Niaga hendak merapat di Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI) Pelabuhan Tanjung Perak, Jumat petang. Saat hendak membuang sauh, kapal berbobot 5.283 {deadweight tonnage} (dwt) yang berangkat dari Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatra Utara itu bersenggolan dengan kapal Mitra Ocean yang sedang berhenti di Buoy 10.
Kejadian tersebut telah membuat semakin panjangnya daftar kecelakaan di laut. Ini membuktikan, betapa tidak mudahnya mewujudkan program {zero accident}, kendati pemerintah, melalui Direktorat Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan, telah berupaya keras menekan angka kecelakaan tersebut melalui program {zero accident}.
Dari 208 kasusus kecelakaan yang diterima Mahkamah Pelayaran selama kurun 2004-2008, tercatat, 72 kasus kapal tenggelam, 29 kandas, 32 terbakar, 55 tubrukan, dan 20 kasus kecelakaan kapal lainnya. Selama tiga bulan pertama tahun ini, Mahkamah Pelayaran menerima pelimpahan lima kasus kecelakaan kapal yang terjadi di sejumlah perairan Indonesia dari Ditjen Perhubungan Laut Dephub.
Ketua Mahkamah Pelayaran Cahyo Wilis Geriliyanto kepada wartawan (15/4) mengatakan, Jika merujuk pada hasil sidang Mahkamah Pelayaran selama ini, kecelakaan kapal umumnya disebabkan oleh faktor kelalaian manusia atau kru kapal.
Berbeda dengan pernyataan yang dikemukakan Ketua Umum DPP Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Hanafi Rustandi. Menurutnya, jika secara teknis kapal itu dalam kondisi baik dan laik melaut serta memenuhi standar keselamatan yang diamanatkan International Maritime Organization [IMO], tingkat kecelakaan kapal seharusnya bisa ditekan," katanya.
Sejak menjabat Dirjen Perhubungan Laut, Sunaryo telah mencanangkan program {Zero Accident}. Sebanyak 500 lebih pejabat Perhubungan Laut seluruh Indonesia dikumpulkan dalam apel khusus di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, pertengahan januari lalu.
Dirjen meminta para pejabat Perhubungan Laut (Hubla) untuk mewujudkan program tersebut di semua perjalanan laut. Ia juga mengintsruksikan supaya semua operator pelabuhan meningkatkan pelayanan yang tepat mutu dan tepat waktu seperti yang tertuang dalam telegram Dirjen Perhubungan Laut tanggal 2 Januari lalu. Semua pejabat di pelabuhan juga diminta bertindak tegas dan berani memberantas pungli dan kebocoran serta penggunaan dana tidak transparan.
Program zero accident, memang masih butuh proses panjang dan menyeluruh. Karena itu, untuk mempercepat penurunan angka kecelakaan di laut, butuh kepedulian semua pihak, termasuk masyarakat. Peran masyarakat juga sangat diperlukan dalam mewujudkan hal itu. Upaya terkecil yang dapat dilakukan masyarakat adalah dengan tidak memaksakan diri, menumpang kapal yang telah melebihi kapasitas. Masyarakat sebagai konsumen juga berhak mengetahui kelaikan kapal yang akan ditumpangi. Di sinilah peran administratur pelabuhan juga diperlukan. Akhiri manipulasi data kelaikan demi keselamatan banyak jiwa.** |