Jumat pagi (29/5), angin laut di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat masih terasa dingin. Matahari pun baru menampakkan wajahnya di ufuk timur. Namun, suasana di Dermaga II Pelabuhan Ikan, Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi sudah ramai dengan peserta Turnamen Mancing Piala Presiden ke-XI.
Deru mesin kapal yang akan membawa peserta sudah sejak lima belas menit, dinyalakan. Hilir mudik panitia yang akan memberangkatkan peserta, menambah hiruk pikuknya suasana. Aba-aba start dibunyikan. Satu persatu peserta meninggalkan dermaga, lego jangkar menuju perairan lepas.
Lima belas peserta yang berlaga pada turnamen tersebut diantaranya, Tim Wahoo, Bammus, BUF, Trans 7, Gandaria Civell Fishing Club, Surya, Pasadena, Halida – Sukabumi, Chayoners – Bandung, Tim WBW-I, Tim WBW-II, Komunitas Pemancing Bank Sumsel, Jagat , Xzoga Kalimantan dan Lashiano Crew Fishing Squad.
Tiap tim maksimal enam orang. Diantaranya terdiri satu pemancing, satu pengawas/pengamat pertandingan, kapten kapal dan Anak Buah Kapal (ABK). Pengamat bertugas mengawasi jalannya turnamen di kapal masing-masing peserta dari awal hingga akhir. Mencatat dan melabeli setiap ikan yang diperoleh peserta, merekam hasil tangkapan mereka, melaporkan dan memberikan informasi ke panitia di base turnamen melalui radio marine yang ada di setiap kapal peserta.
Apabila kapal mengalami kecelakaan, mogok dan sebagainya, pengamat bisa memberikan informasi ke base camp. Setiap pengamat juga berkewajiban menyerahkan buku laporan hasil tangkapan kepada dewan juri di meja panitia. Pengamat juga diwajibakn melapor kepada koordinator pengamat bahwa kapal dan peserta turnamen telah berangkat, atau merapat di base camp.
Sedang species ikan yang dipertandingkan, dibagi dalam tiga kategori yakni Kelas Bilfish yang meliputi ikan Marlin (Makaira sp), Layaran (Sailfsih) dan ikan pedang (Swordfish). Kelas tuna meliputi Dolffish Tuna dan Tuna Sirip Kuning. Sedang kelas non-Billfish meliputi Lemadang (Dolphinfish), Narrowbarred Mackerel, Kuwe Gerong (Giant Trevally), Barakuda (Great Barrauda) dan Wahu (Wahoo).
Rony Muharam, Koordinator Pengamat Pertandingan yang ditemui di Hotel Bunga Ayu (29/5) kepada www.indonesiaboat.com mengatakan, bagi peraih ikan Marlin, yang masuk dalam kategori Billfish, setiap peserta akan mendapatkan nilai 500. Untuk kelas Layaran pointnya 200. Untuk Marlin, Layaran dan Ikan Pedang diberlakukan sistem tag and realese. Jadi setelah ditangkap, didokumentasikan, dan dilepaskan kembali ke laut.
Jenis ikan dimaksud baru bisa diangkat (diganco) bila diperkirakan akan memecahkan rekor nasional di kelas bebas (all tackle). Namun sebaliknya, jika tidak memenuhi batas minimal, namun tetap diangkat, maka tim tersebut akan dipotong nilainya sesuai ketentuan pertandingan.
Sedang penilaian kelompok non-Billfish yang menjadi target meliputi ikan Tuna, Lemadang, Tenggiri, Kuwe Gerong, Barakuda dan Wahu harus memiliki bobot minimum 10 kilogram. Bagi ikan yang belum melampaui rekor nasional kelas bebas, nilainya 5 point per kilogram berat ikan. Sedang yang berhasil menciptakan rekor nasional baru di kelas bebas dinilai 10 poin per kilogram berat ikan.
Rony menambahkan, untuk pemecahan rekor nasional kelas Marlin, peserta akan mendapatkan 1000 point, namun jika belum berhasil memecahkan, point-nya tetap 500.
“Rekor Nasional, untuk Marlin Biru yang masih dipegang adalah 179,2 kg. Untuk Marlin Hitam yang masih bertahan 190,05 kg. Tuna Sirip Kuning, rekor yang masih bertahan 76,8 kg. Sedang Tuna Sirip Biru, tidak dipertandingkan karena jumlahnya sangat jarang di Laut Selatan ini,” ujarnya.
Untuk kelas lainnya, panitia tidak masukkan ke juara khusus. Meski demikian katanya, jika berat ikannya melebihi pencapaian pada turnamen sebelumnya boleh di klaim ke Formasi (Federasi Olah Raga Memancing Seluruh Indonesia) yang juga merupakan penyelenggara turnamen tersebut.
Hari pertama, panitia berhasil mencatat perolehan 2 ikan Marlin, 4 Yellow Fish Tuna (Tuna Sirip Kuning). Masing-masing seberat 48,10 kg, 42,85 kg, 30,10 kg dan 12 kg. Keempat Tuna Sirip Kuning tersebut hasil perolehan tim Wahoo (2 ekor), Tim WBW-I dan Gandaria Civell Fishing Club yang juga berhasil memancing ikan Marlin dan menghantarkannya sebagai Juara Umum Turnamen Mancing Piala Presiden 2009 di Pelabuhan Ratu. Pada hari yang sama, Tim Lashiano Crew Fishing Squad juga berhasil memancing ikan Marlin yang kemudian di Tag & Release ke lautan bebas. Karena itu, untuk kategori ikan Marlin tidak ditentukan bobotnya.
Hari kedua (30/5) turnamen diwarnai dengan hasil penangkapan tiga ikan Lemadang, masing-masing seberat 10 kg, 10,95 kg dan 12,35 kg, hasil kerja keras tim WBW-I, dan Tim Jagat . Sedang Tim BUF, hari itu memperoleh ikan Wahu seberat 18,65 kg. Bammus memperoleh Tuna Sirip Kuning seberat 15,30 kg.
Di hari kedua, seorang peserta berhasil memancing ikan tuna seberat 74 kg lebih. Sayang, hasil tersebut didiskualifikasi karena kapal yang dinaiki terlambat sampai di Base Turnamen akibat kerusakan kapal. Banyak pihak yang menyayangkan hal itu, namun keputusan juri tak bisa diganggu gugat. Karena hal itu sudah dibahas sebelumnya dalam technical meeting.
Hari ketiga (31/5) para peserta hanya berhasil membawa pulang ikan Tuna Sirip Kuning seberat 11,20 kg (Tim Wahoo), Great Trevally (GT) seberat 11,95 kg (Tim Chayoners Bandung) dan Lemadang seberat 10,10 kg yang diperoleh Tim WBW-II.
Juara I berhasil diraih Tim Gandaria Civell Fishing Club dengan total nilai 714,25. Tim yang terdiri dari keluarga dokter itu berhasil dinobatkan sebagai juara umum dan berhak mendapatkan trophy bergilir Piala Presiden. Tim ini juga berhasil meraih kejuaraan sebagai kapten dan ABK Terbaik.
Juara II diraih, Xzoga Kalimantan dengan total nilai 500. Jenis ikan yang ditangkap, satu-satunya berupa ikan Marlin. Juara III diperoleh Tim WBW-I dengan total nilai 352,25. Hasil pengumpulan nilai dari perolehan ikan Tuna Sirip Kuning dan dua ekor Lemadang. Panitia juga menetapkan juara di kategori Billfish, Tuna dan non-Billfish. Panitia juga mengumumkan juara di kelas Tuna, yang diraih Tim WBW I. Sedang Tim Xzoga Kalimantan meraih juara di kelas Billfish.
Rony lebih lanjut mengatakan, penyelenggaraan Turnamen Mancing Piala Presiden dilaksanakan di berbagai tempat secara bergiliran. Diantaranya di Muar Binuangen, Banten, Manado dan Pelabuhan Ratu. Dipilihnya Pelabuhan Ratu pada turnamen kali ini didasarkan pada pertimbangan masih berpotensinya wilayah perairan tersebut bagi penangkapan ikan yang masih dalam kategori terutama ikan Tuna Sirip Kuning. Sedang untuk Marlin, di perairan ini terdapat jenis Black Marlin (Marlin Hitam). “Yang jarang terdapat di perairan ini adalah Blue Marlin dan Layaran,” ujarnya.
Pelaksanaan yang diadakan di Bulan Mei ini, didasarkan pada pertimbangan musim. Musim angin Selatan sekitar Bulan Juni – Februari, wilayah perairan di Laut Selatan sepi dari aktivitas mancing. Karena itu, diselenggarakan Turnamen Mancing Piala Presiden ke-XI di Pelabuhan Ratu juga didasarkan pada pertimbangan situasi dan kondisi cuaca yang ada. “Sebelumnya panitia mengadakan penelitian apakah cocok jika diselenggarakan bulan-bulan ini? Harus dicek dulu apakah di Pelabuhan Ratu sedang musim angin Selatan, Utara, Timur atau Barat? Jadi dipilihnya lokasi tersebut mengacu pada banyak pertimbangan. Hal itu kami lakukan demi keselamatan peserta,” katanya.
Upaya itu dilakukan, berdasarkan pengalaman penyelenggaraan Turnamen Mancing Piala Presiden ke-X di Binuangen, Banten yang terpaksa di-cut di tengah jalan, gara-gara cuaca tak mengijinkan. Karena itu, penyelengaraan turnamen kali ini kendati waktunya mepet, namun tetap dilakukan penelitian.
Sasaran turnamen selain untuk memasyarakatkan kegiatan olahraga memancing, juga mempromosikan kegiatan bahari lainnya yang ada di Indonesia. Pada penyelenggaraan kali ini, panitia juga menggalakkan gerakan kebersihan laut. Setiap peserta dibekali kantong plastik besar untuk tempat menampung sampah selama turnamen berlangsung sehingga peserta tidak mengotori laut.
“Membudayakan kebersihan lingkungan laut penting dilaksanakan sebab jika laut kotor, tercemar, ikan berkurang. Kegiatan mancing menjadi semakin sulit, dan target ikan sendiri menjadi berkurang. Belum lagi untuk ikan-ikan konsumsi akan semakin sulit juga kalau lautnya tercemar. Di situ juga kami menanamkan kecintaan bahari kita melalui kegiatan olah raga memancing,” ujarnya.
Pihaknya masih mengeluhkan minimnya dana dan dukungan sponsor. Pihak sponsor yang terlibat, masih sebatas pada pengusaha yang bergerak di bidang alat-alat mancing. Sementara sponsor yang lain belum memandang ini sebagai suatu kegiatan yang bisa mereka dukung. Meski demikian, panitia bertekad menyelenggarakan turnamen tersebut, meski masih minim dukungan. “Alhamdulillah meski pendanaan minim, kami berhasil menyelenggarakan sesuai target yang ada,” katanya.
Namun terlepas dari minimnya pendanaan tersebut, profesionalitas penyelenggaraan nampaknya masih perlu ditingkatkan, khususnya terkait dengan publikasi. Ada kesan kehati-hatian dalam mempublikasikan hasil day by day. Bisa dibayangkan, untuk mendapatkan rekap kejuaraan setiap hari, mesti menunggu hingga turnamen selesai. Disamping itu, panitia juga dirasakan terlalu menganak tirikan peliput di luar komunitas mancing. Eksklusivitas semacam itu, sudah saatnya diakhiri agar kecintaan terhadap laut dapat disebar secara meluas oleh sebanyak mungkin media. * |