Kompetisi perahu layar (yacht) dengan rute Darwin, Australia ke Ambon, Maluku atau lebih dikenal dengan Darwin-Ambon Yacht Race kembali digelar. Acara tahunan ini telah dirintis sejak tahun 1976 dilangsungkan pada 21-27 Juli 2009.
Lomba yang menempuh jarak 600 mil laut ini merupakan ujian navigasi dan nyali saat melintasi ombak perairan Maluku. Sampai tahun 1998, lomba ini ramai peserta. Rata-rata 100 yacht dari Australia sandar di Ambon.
Agenda wisata bahari ini macet pada tahun 1999-2006, menyusul kerusuhan yang melanda Ambon. Lomba dihidupkan kembali pada tahun 2007, dengan harapan memulihkan sektor pariwisata Maluku yang terpuruk pasca kerusuhan sosial itu. Namun tampaknya, masa keemasan Darwin – Ambon Yacth Race ini belum sepenuhnya pulih.
Panitia penyelenggara menilai, penurunan peserta disebabkan krisis ekonomi global dan tingkat kepercayaan keamanan di Ambon, Maluku, yang masih rendah. “Kami baru tiga tahun menghidupkan kembali acara ini. Jadi, wajar kalau pesertanya masih sedikit. Yang penting, acara ini terus berlangsung dan pasti nanti akan membaik,” ujar Helen de Lima, koordinator penyelenggara Darwin-Ambon Yacht Race, Minggu (26/7).
Untuk tahun ini, ungkap Helen, jumlah peserta menurun karena krisis ekonomi global. Anggota komunitas yacht banyak yang tidak melakukan perjalanan ke luar negeri dalam rangka penghematan. “Jika ikut lomba, biaya yang dikeluarkan cukup besar untuk pengecekan mesin yacht, asuransi jiwa dan perahu, serta akomodasi. Pelaksanaan tahun depan diharapkan lebih semarak seiring dengan pulihnya perekonomian,” ujarnya.
Marry, salah satu peserta lomba dari Australia, menilai, tidak ada yang perlu ditakutkan datang ke Ambon. Tingkat keamanan di daerah bekas konflik ini dinilainya sudah stabil.
Marry dan rombongan mengaku nyaman berjalan keliling Kota Ambon. Demikian pula saat mengunjungi sejumlah tempat wisata. “Orang di sini sangat ramah,” katanya. (ANG)
Dalam acara Darwin-Ambon Yacth race 2009 ini, peserta disuguhi welcome ceremony di Patimura Park di jantung Kota Ambon. Semula, welcome ceremony ini akan dilangsungkan di pantai Amahusu. Perubahan ini dimaksudkan agar peserta Yacht Race dari Benua Kangguru itu mendapatkan kesempatan untuk lebih mengenal sosok pahlawan nasional Pattimura yang menjadi kebanggaan masyarakat Maluku
Kepala Dinas Pariwisata kota Ambon itu Dra. F.Sahusilawane,MH. mengatakan bahwa kota Ambon sendiri, sebenarnya memiliki banyak lokasi wisata dan tempat – tempat bersejarah yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Ambon War Cemetry di Kapaha yang merupakan tempat peristirahatan terakhir pasukan Australia dalam perang dunia II tahun 1945.
“Selain fokus pada wisata bahari di kota Ambon, para wisman dapat diarahkan untuk mengunjungi tempat – tempat wisata sejarah di kota Ambon. Kita memiliki War Cemetry, ini merupakan tempat bersejarah juga buat wisman asal Australia,” tuturnya.
Tentang lomba itu sendiri, pemenang kompetisi perahu layar ini akan akan mendapat penghargaan langsung dari Menbudpar. “Para pemenang akan mendapat penghargaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik,” ujar Walikota Ambon Jopie Papilaya.
Acara Darwin-Ambon Yacht Race ini sebenarnya merupakan even tahunan yang telah diadakan sejak tahun 1976. Namun sejak 1996 terhenti lantaran Ambon terus-menerus dilanda kerusuhan, dan baru dihidupkan kembali pada 2007 lalu.
Kali ini even bahari tersebut diikuti 20 kapal yang berasal dari Australia, Inggris, dan Jerman. Pemerintah berharap jumlah tersebut bisa terus bertambah dan bisa kembali normal seperti sebelum kerusuhan. “Dulu jumlah peserta bisa mencapai 100 kapal,” imbuh Jopie.
Menurut panitia penyelenggara, even ini memberikan keuntungan ekonomis yang cukup menggembirakan bagi penduduk setempat. “Pengeluaran satu orang peserta atau yachter dalam sehari rata-rata berkisar US$ 150,” ujar anggota panitia penyelenggara Darwin-Ambon Yacht Race, Hellen De Lima. “Sebagian besar dibelanjakan langsung pada masyarakat setempat,” imbuh Hellen.
Masing-masing dari 20 kapal layar tersebut terdiri dari empat hingga lima yachter dengan prediksi waktu tinggal di Ambon selama lima hari. Dengan demikian, potensi pendapatan yang bisa didapatkan mencapai kurang lebih US$ 75.000.
Tahun ini Depbudpar menargetkan kunjungan wisman mencapai 6,5 juta turis dengan target pengeluaran masing-masing wisman berkisar US$ 1.100 dalam sekali kunjungan ke Indonesia. |