Meletusnya Gunung Krakatau yang menggemparkan dunia pada Agustus 1883, kini dijadikan momentum bersejarah bagi Provinsi Lampung untuk mengenalkan potensi wisatanya. Dalam Festival Krakatau tahunan ini, para peserta menikmati keindahan panorama di seputar selat sunda itu, ditemani dentuman anak krakatau yang tak henti-hentinya batuk.
Siapa tak ingat Krakatau. Mendengar nama itu, kita langsung teringat akan letusan maha dahyat pada 26-27 Agustus 1883 silam. Ledakan gunung krakatau itu kemudian disertai pula dengan tsunami yang mengakibatkan sekitar 36.000 jiwa meninggal dunia.
Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusannya bahkan terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika yang jaraknya 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
Tak hanya itu, letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
Kini, apa yang dilihat dari Krakatau setelah waktu bergulir seabad lebih, bukan lagi itu. Krakatau kini adalah surga wisata dunia yang menyajikan pemandangan indah dengan segenap potensinya. Sejarah itu kini diperingati dengan keriaan, festival dan tour.
Festival Krakatau 2009 yang ke 19 kalinya ini diselenggarakan tanggal 25 - 29 Juli 2009 di Bandar Lampung (ibukota Provinsi Lampung) dan Lampung Selatan. Acara pembukaan akan ditandai dengan tarian massal, atraksi budaya & pawai topeng dari 11 kabupaten/ kota, seremonial gajah serta atraksi paramotor.
Kegiatan utama festival ini dimeriahkan dengan Krakatau Night, Tour Krakatau, Krakatau Jetski, Lampung Expo, Pergelaran Seni Budaya Nusantara, Travel Exchange, Fam Trip dan Festival Layang-layang. Beberapa kegiatan pendukung yaitu : Motor Trail Adventure, Krakatau Offroad, Scooter Krakatau Rally, Paramotor, Pemilihan Muli Mekhanai Lampung, Lomba Lagu Pop Daerah Lampung dan Lomba Tari Kreasi Daerah Lampung.
Tour Krakatau berangkat dari Pelabuhan Fery Bakauheni Lampung Selatan. Para peserta akan dibawa mengarungi Selat Sunda menuju Gugusan Kepulauan Krakatau dari arah Utara melewati Pulau Panjang dan Krakatau Tua. Pengalaman mendebarkan saat mendekati Gunung Anak Krakatau yang masih aktif.
Peserta Festival Krakatau Ke-19 mendapat sajian menarik berupa letusan Gunung Anak Krakatau. Selama dua jam pengamatan, gunung berapi di Selat Sunda itu meletus setiap lebih kurang 15 menit.
Minggu (26/7) di kawasan Cagar Alam Laut Kepulauan Gunung Anak Krakatau, peserta festival yang menggunakan kapal feri Windu Karsa Pratama terkejut mendengar suara letusan Anak Krakatau. Bunyinya sangat keras dengan kepulan material bergulung-gulung tebal dan membubung hingga ratusan meter.
Rombongan yang tiba di lokasi pukul 12.40 WIB mendengar letusan pertama pukul 12.58. Letusan disertai kepulan asap tebal.
Zant Thomas R, wisatawan asal California, Amerika Serikat, yang turut dalam rombongan mengatakan, dia baru pertama kali mengamati letusan gunung berapi. Ia mengaku sangat ketakutan, tetapi menikmati fenomena alam itu. “Saya terus-menerus meneriakkan nama Tuhan saat melihat letusan tersebut,” ujarnya.
Dalam rombongan itu juga ada duta besar dari 15 negara sahabat. Satu di antaranya adalah Paul Freiher von Maltzahn, Duta Besar Jerman untuk Indonesia. Ia mengaku sangat terkesan dengan festival tersebut. “Saya bisa membayangkan letusan (Gunung Krakatau) yang terjadi pada tahun 1883 dengan melihat penampakan gunung saat ini,” komentarnya. |