-- Menanti Perhatian Perbankan di Industri Perkapalan -- -- Kabar Baik Dari Laut -- -- Pelayaran Antarpulau Hanya Untuk Kapal Berbendera Indonesia -- -- Geliat Industri Perkapalan Indonesia di Tengah Krisis -- -- NTT Kembali Gelar Lomba Mancing Internasional --
 
 
HOME PERJALANAN MARINA SOSOK TIPS
 
 


Kapal layar bertiang tinggi (wallship) akan memeriahkan Sail Bunaken 2009. Inzet: Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi. (Foto : cbn.nt.id & dkp.go.id)

SAIL BUNAKEN 2009: Menghitung Hari
Oleh : Sapto Adiwiloso
 
Sail Bunaken 2009 yang tinggal beberapa hari lagi, merupakan hajatan terbesar dalam sejarah kebaharian Indonesia. Karena itu harus steril dari ancaman terorisme. Sejumlah pasukan pun diturunkan untuk melakukan pengamanan.

Penyelenggaraan Sail Bunaken di Kota Bitung dan Manado, tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan untuk pagelaran akbar itu terus dilakukan, termasuk antisipasi terhadap gerakan terorisme yang dikhawatirkan akan menganggu pelaksanaan yang telah ditunggu pecinta bahari dari berbagai belahan dunia.

Sekretaris Panitia Nasional Sail Bunaken Aji Sularso, yang juga Direktur Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, di Jakarta, Kamis (23/7), mengemukakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah antisipasi guna menjamin keamanan perhelatan akbar Sail Bunaken itu.

Upaya pengamanan itu, diantaranya mengurangi kegiatan yang berpotensi menimbulkan pusat keramaian. Seperti pertunjukan kembang api yang semula akan dipusatkan di sebuah kawasan perhotelan di Manado dibatalkan dan diganti menjadi pertunjukan simbolis di tengah laut.

Sail Bunaken 2009 yang antara lain diisi dengan parade kapal perang angkatan laut, kapal pemerintah, kapal layar tiang tinggi (tall ship), dan kapal pesiar (yacht) itu akan dijaga sejumlah aparat keamanan yang meliputi 2.200 personel polisi, 500 personel TNI, serta aparat pengawasan DKP. Jumlah kapal layar yang akan memeriahkan acara tersebut mencapai 165 kapal dari 20 negara. Diperkirakan 7.000 pelaut akan datang pada acara tersebut.

Kegiatan konvoi kapal pesiar, ujar Aji, akan mengunjungi 14 kabupaten/kota pesisir dan diharapkan mendorong promosi dan pendapatan daerah. "Sail Bunaken bertujuan menggalang opini dunia dan penegasan bahwa Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia dengan potensi kelautan yang luar biasa," ujar Aji.

Pemberangkatan kapal pesiar dan layar bertolak dari dua titik, yakni Darwin di Australia, dan Kinabalu di Malaysia tanggal 3 Agustus, dan bertemu di Bitung, Sulawesi Utara. Adapun kegiatan penyelaman dilakukan di Pantai Malalayang, Manado. Direncanakan, ada pemecahan rekor dunia selam untuk 1.500 penyelam. Anggaran yang disiapkan untuk pelaksanaan Sail Bunaken di antaranya bersumber dari APBN sebanyak Rp 30 miliar, dan anggaran rutin DKP Rp 11 miliar.

Pelesapasan (Flag off) dilakukan di atas Kapal "The Spirit of Darwin" di Darwin, Australia, Sabtu (18/7). Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Freddy Numberi dalam sambutannya menegaskan, serangan terhadap dua hotel (JW Marriot dan Ritz Carlton) gagal mempengaruhi antusiasme para peserta reli kapal layar Sail Bunaken. "Tidak ada kapal peserta yang mundur dari Sail Bunaken karena insiden kemarin," katanya.

Freddy menambahkan, Kenyataan ini membuktikan tingginya kepercayaan negara-negara di dunia pada Indonesia karena di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia dapat dikelola dengan baik sehingga apapun yang terjadi, para pencinta wisata bahari dunia itu tetap datang, kata Freddy.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, terjadinya peristiwa serius di satu daerah tidak lantas membuat daerah-daerah lain tidak aman untuk dikunjungi warga negara asing karena Indonesia bukanlah negara kontinental, katanya.

Sedang Aji Sularso mengatakan, semua elemen pemerintah dan masyarakat yang terlibat dalam upaya menyukseskan kegiatan reli wisata bahari akbar ini bekerja keras untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan kepada kapal-kapal layar peserta di setiap daerah yang dilalui.

"Jadi walaupun ada (negara yang mengeluarkan) `travel warning` (peringatan perjalanan), `Sail Bunaken` jalan terus," kata Aji Sularso yang juga Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Dirjen P2SDKP) ini.

Sementara itu, Menteri Hubungan Asia NT Chris Burns memandang "Sail Indonesia/Sail Bunaken" yang mengambil titik awal pelayaran menuju Indonesia dari Darwin sebagai "simbol persahabatan" kedua bangsa.

Segelintir orang yang mencoba melemahkan hubungan Australia-Indonesia yang sudah kuat terbangun dengan aksi kejahatan seperti yang terjadi di Jakarta 17 Juli itu tidak akan berhasil. "Kita ini bertetangga dan akan selalu begitu," kata Chris Burns.

Terkait dengan serangan teroris di dua hotel mewah tersebut, Chris Burns menyampaikan rasa sedih dan belasungkawanya bagi para korban dan keluarga korban. Dia berharap mereka yang terlibat dapat segera diadili.

Kapal-kapal layar yang bertolak dari Darwin ini dikawal dua kapal patroli Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), "Hiu Macan Tutul 001" dan "Hiu Macan 006", sampai Saumlaki. Mereka diperkirakan tiba di Ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat itu pada 20 Juli.

RUTE SAIL INDONESIA

“Sail Indonesia” 2009 yang penyelenggaraannya dipadukan dengan “Sail Bunaken” akan diikuti 165 kapal, termasuk sekitar 24 kapal yang berangkat ke perairan Sulawesi Utara dari Kinabalu, Malaysia.

Sebagian kapal layar peserta itu berangkat dari Darwin pada 18 Juli dengan kota tujuan pertama, Saumlaki. Mereka diperkirakan tiba di Ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat itu pada 20 Juli.

Selama empat hari di kota kecil yang terletak di Pulau Yamdena yang menjadi bagian dari Kepulauan Tanimbar itu, para peserta akan disambut pemerintah dan masyarakat setempat dengan festival budaya dan pameran produk kerajinan tangan.

Dari Saumlaki, kapal-kapal layar peserta menuju Tual (26-29 Juli), Banda, Ambon (4-7 Agustus), Ternate, Bitung (12-19 Agustus), Banggai, Wakatobi (26-30 Agustus), Ende (5-9 September), Nagikeo (11-13 September), Labuan Bajo (16-20 September), dan Mataram (24-28 September).

Dari Mataram, para penjelajah samudera mancanegara itu melanjutkan pelayarannya ke Bali (30 September – 4 Oktober), Karimun Jawa (8-15 Oktober), Banjarmasin (8-12 Oktober), Kumai (14-17 Oktober), dan Belitung (21-25 Oktober).

Di berbagai kota pantai yang dilalui kecuali Banda dan Banggai, para peserta “Sail Indonesia” dan “Sail Bunaken” 2009 itu akan disambut dengan aneka acara hiburan rakyat.

Kegiatan itu diselenggarakan bersama oleh panitia “Sail Indonesia”, “Sail Bunaken”, dan YCBI dengan mendapat dukungan pemerintah pusat dan berbagai pemerintah daerah itu. Kegiatan “Sail Indonesia” 2009 tidak menggunakan rute Jalur Barat seperti tahun-tahun sebelumnya.

Panitia “Sail Indonesia” 2009 menyebutkan, keputusan tentang perubahan rute itu merupakan keputusan pemerintah RI guna memaksimalkan jumlah kapal layar yang dapat memeriahkan “Sail Bunaken” sebagai rangkaian kegiatan Konferensi Bahari Internasional di Manado, Sulawesi Utara. Dibandingkan dengan “Sail Indonesia” 2008, maka jumlah peserta “Sail Indonesia” tahun ini meningkat dari 116 menjadi sekitar 165 kapal layar.

Beberapa di antara kapal-kapal layar itu adalah “Arnak” yang dinakhodai pelaut asal Selandia Baru, Geoff Gentil, “Backchat” (Australia dengan nakhoda, Alan Main), “Quiver (Kanada, Jim Burgoyne), Vega (Malta, James Grainger), dan “Absolutely Knot (Australia, Eddie Davidson).

Selanjutnya, “Barbara Ann” (Amerika Serikat dengan kapten kapal Jack Hunt), “Bauvier” (Belgia, Bart Venhaeghe), “Cheshire Cat” (Kanada, Mike Rigby Williams), dan “Cool Bananas” (Selandia Baru, Daryl Fisher).

Selain diikuti kapal-kapal layar asal Australia, Selandia Baru, Kanada, Malta, Amerika Serikat, dan Belgia, “Sail Indonesia” dan “Sail Bunaken” 2009 itu juga dimeriahkan kapal-kapal asal Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Swedia, Swiss, Vanuatu, Denmark, Afrika Selatan, Kepulauan Virgin, Antigua Barbuda, Irlandia, Norwegia, Kepulauan Marshall, Finlandia, dan Spanyol.

Walikota Tarakan H.Udin Hianggio menyambut gembira bakal singgahnya dua puluhan kapal layar di Kota Tarakan, Kalimantan Timur (Kaltim) dalam pelayaran mereka dari Kinibalu, Malaysia, menuju perairan Sulawesi Utara. Kesempatan berharga ini akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi pariwisata bahari Pulau Derawan dan Danau Kaka’ban yang eksotik.Juga seni budaya dan produk serta potensi daerah.

“Terumbu karang Pulau Derawan ini dinilai banyak orang lebih indah dari Bunaken,” ujar Udin berpromosi..

Sedang Raymond T Lesmana Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cinta Bahari Indonesia (YCBI) mengatakan beberapa daerah yang dilalui para peserta menggelar acara unik warisan budaya setempat.

Di daerah Bowae misalnya, para nakhoda dan awak ratusan kapal peserta “Sail Indonesia”/”Sail Bunaken” itu akan disambut dengan acara jamuan makan siang bersama dalam tradisi kerajaan Bowae, sedangkan di Nagekeo Wakatobi mereka dijamu makan siang oleh Pemda dan masyarakat di tengah sawah, katanya.

“Saya bermimpi tiga tahun lagi, kita bisa menggelar ‘the Sultan Rally’ dimana para awak kapal-kapal layar mancanegara disambut dengan tradisi kesultanan yang pernah dan masih hidup di Nusantara,” kata Raymond.* sumber: Ant

JADWAL SAIL BUNAKEN 2009

12 Agustus 2009 : Kedatangan kapal perang, kapal layar bertiang tinggi dan
Kapal layar lainnya di Bitung, Sulawesi Utara
13 Agustus 2009 : Jamuan Selamat Datang oleh Bupati Bitung
16 Agustus 2009 : Bunaken Carnival
14 – 17 Agustus 2009 : Kunjungan ke kapal (Openships)
14 – 16 Agustus 2009 :
a) Turnamen Selam di Bunaken
b) Dinghy Race di Pantai Manado
c) Relly Jetski dari Makassar ke Manado
d) Sandeq Race
17 Agustus 2009 :
1. Temu muka seluruh Kapten Kapal di rumah dinas Gubernur Sulut.
2. Dive Tour di Bunaken
3. Sunset Cocktail Party / Gala Dinner

18 Agustus 2009 :
1. Tour bebas
2. Pagelaran musik & Seni budaya di Manado atau di Bitung

19 Agustus 2009 : Parade kapal layar di Selat Lembeh.
20 Agustus 2009 : Seluruh peserta meninggalkan Belitung

 

 
INDEKS BERITA

Menanti Perhatian Perbankan di Industri Perkapalan
Oleh : Sapto Adiwiloso
Pertumbuhan industri galangan kapal di Indonesia hingga kini masih tertatih-tatih. Salah satu kendalanya adalah keenganan perbankan nasional mengucurkan kredit.
 
Kabar Baik Dari Laut
Oleh : Sapto Adiwiloso
Industri pelayaran niaga dalam negeri semakin berkembang setelah diterapkannya asa cabotage. Sedang Departemen Perikanan dan Kelautan akan menenggelamkan atau membakar kapal-kapal asing ilegal yang melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia.
 
Pelayaran Antarpulau Hanya Untuk Kapal Berbendera Indonesia
Oleh : Sapto Adiwiloso
Asas cabotage yang segera diberlakukan mengharuskan penggunaan kapal berbendera Indonesia pada pelayaran antarpulau. Ini berarti membuka peluang bagi kapal-kapal berbendera Indonesia untuk mendapatkan kontrak yang lebih besar yang selama ini hanya dikuasai kapal-kapal berbendera asing. ---------------
 
Geliat Industri Perkapalan Indonesia di Tengah Krisis
Oleh : Sapto Adiwiloso
Krisis ekonomi global masih dirasakan industri perkapalan Indonesia. Pemanfaatan kapasitas produksi galangan kapal beru mencapai 50 persen. Bagaimana PT PAL Indonesia menyiasati krisis tersebut sehingga produksi masih dapat berlangsung? --------------------------
 
NTT Kembali Gelar Lomba Mancing Internasional
Oleh : Sapto Adiwiloso
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menggelar lomba memancing bertaraf internasional di sebuah selat yang terletak di antara Pulau Timor dan Pulau Rote. Hadiahnya pun cukup menggiurkan.
 
2010: Giliran Ambon Jadi Tuan Rumah
Oleh : Sapto Adiwiloso
Setelah sukses menggelar Sail Bunaken 2009, pemerintah Indonesia akan menggelar kembali perhelatan akbar di Ambon, Maluku pada 2010.
 
Pekik Kemerdekaan Dari Kapal Induk AS
Oleh : Sapto Adiwiloso
Sail Bunaken 2009 ditutup dengan Parade Kapal Perang dari berbagai negara. Tampil sebagai primadona pada acara itu yakni Kapal Induk USS George Washington. Mereka tak hanya berparade tetapi juga meneriakkan yel-yel: Indonesia Merdeka !
 
Parade Kapal Perang di Manado
Oleh : Sapto Adiwilowo
Kehadiran kapal perang asing dalam rangkaian Sail Bunaken 2009 mendorong kerja sama maritim yang lebih baik, khususnya terkait dengan masalah keamanan dan kesejahteraan bersama di bidang kelautan
 
Mengembalikan Kejayaan Bahari Indonesia
Oleh : Sapto Adiwiloso
Dua pemecahan rekor yang dicapai pada rangkaian Sail Bunaken 2009, yakni senam massal dan pengibaran bendera merah putih di dasar laut, diharapkan mampu membangkitkan semangat kebaharian.
 
SAIL BUNAKEN 2009: Kibaran Merah Putih di Bawah Laut
Oleh : Sapto Adiwiloso
"Dan khusus untuk upacara pengibaran bendera kebangsaan yang dilaksanakan di bawah laut, maka Indonesia merupakan negara pertama yang melakukannya di tingkat dunia," ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul.
 

 

 
  Indonesia Boat
 
  Redaksi | Suara Komunitas  
 
Copyright (c) 2009 “Boat Indonesia JAC” All rights reserved.