Dua pemecahan rekor yang dicapai pada rangkaian Sail Bunaken 2009, yakni senam massal dan pengibaran bendera merah putih di dasar laut, diharapkan mampu membangkitkan semangat kebaharian.
-----------------------------------
Lautan manusia menyemut di Pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara. Selama dua hari (16-17/8), perhatian dunia tertuju ke sana. Peringatan HUT Kemerdekaan ke-64 ditandai dengan pecahnya rekor dunia untuk penyelaman massal dan pengibaran bendera di bawah air.
Rekor penyelaman massal dicapai setelah 2.465 penyelam dari 2.818 peserta yang mendaftar, melakukan penyelaman selama 29 menit, membentuk formasi yang telah ditentukan. Lokasi penyelaman sekitar 300 meter dari garis pantai dan pada kedalaman 15 hingga 20 meter dari permukaan laut.
Selam massal itu diikuti unsur TNI, peneliti dari lembaga riset dan perguruan tinggi, anggota Persatuan Olahraga Selam Indonesia, juga peserta dari 10 negara. Ikut pula sebagai peserta kehormatan antara lain Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Mokhlas Sidik, Gubernur Sulut Sinyo H Sarundajang, dan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad.
Rekor sebelumnya, dicatat para penyelam di Maladewa pada 2006 yang melibatkan 958 orang. Menurut data dari Guinness Book of Records, tradisi penyelaman massal diawali Australia tahun 2004 yang diikuti 600 penyelam, disusul Thailand tahun 2005 dengan melibatkan 725 penyelam.
Tepat pada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-64 pada 17 Agustus, Guinness Book of Records mencatat pelaksanaan upacara proklamasi kemerdekaan di bawah air. Pengibaran bendera, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan penghormatan bendera semuanya dilakukan di bawah air selama 20 menit. Sertifikat rekor dunia selam Senin malam diserahkan di Manado oleh Lucia Sinigagliesi dari Guinness Book of Records London, Inggris, kepada panitia.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Iskandar Sitompul mengatakan, dua pemecahan rekor dunia di Manado membuktikan kejayaan Indonesia di dunia maritim. ”Saya rasa rekor ini akan bertahan lama. Kalau ada negara yang memecahkan rekor ini, kita akan buat lagi dengan 3.000 penyelam,” katanya.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno saat menerima sertifikat Guiness selam massal Guinness World Records dari miss Julia dari Inggris di Manado, Senin (17/8).berharap, capaian prestasi yang ditorehkan dalam rangkaian acara Sail Bunaken 2009 itu dapat membangkitkan kembali semangat bahari bangsa Indonesia.
"Penyelam dari Sabang hingga Merauke telah memperlihatkan semangat yang tinggi, sedangkan Angkatan Laut hanya mengoordinir, sementara yang menentukan hingga rekor dunia ini terwujud adalah diri para peselam yang dengan semangat tinggi berusaha mewujudkan target," kata Edhy.
Edhy mengatakan, kecintaan terhadap bahari harus semakin diwujudkan oleh semua anak bangsa, sebab ada pepatah, "siapa yang menguasai lautan dia yang menguasai dunia".
KSAL mengingatkan akan kejayaan bahari di masa kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Semangat itulah yang hendak dibangkitkan kembali melalui pemecahan rekor dunia
Pekerjaan Rumah
Keberhasilan yang ditorehkan itu, tentu hanya akan menjadi sebuah kenang-kenangan, jika tidak ditindaklanjuti dengan pembangunan infrastruktur kelautan, aspek keamanan di laut. Juga sosialisasi ‘sadar wisata’ kepada masyarakat pesisir, kelestarian sumberdaya kelautan, serta regulasi yang dirasakan masih tumpang tindih.
Konsultan manajemen kapal pesiar (cruise) asal Monako, Hugues Lamy dan Direktur Pengembangan, Perencanaan, dan Pengembangan Perjalanan Kapal Pesiar The Yacht of Seabourn, Peter Cox, mengakui Indonesia masih sangat menarik untuk disinggahi kapal pesiar internasional.
"Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa meraih 67 persen dari total transit yang dilakukan kapal-kapal pesiar di Indonesia dengan destinasi unggulannya Komodo, Benoa, dan Borobudur. Hal tersebut bisa terjadi karena destinasi tersebut tidak jauh dari standar internasional," ujar Lamy.
Namun Peter Cox mengingatkan masih terdapat tantangan yang harus ditangani oleh Indonesia seperti masalah keamanan hingga berbagai masalah logistik seperti bunker, air bersih, dan sebagainya. "Kekurangan ini yang harus diperbaiki agar kapal-kapal pesiar semakin banyak bersandar di Indonesia,"ujarnya.
Catatan yang diperoleh dari Ditjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata hingga akhir 2009 sudah akan terdapat 141 call (kapal pesiar yang singgah) di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Bali, Semarang, dan Nusa Tenggara. Angka tersebut cukup menunjukkan hasil pemulihan citra Indonesia, mengingat lima tahun lalu jumlah kapal-kapal yang singgah hanya mencapai 35 call.
Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar dalam satu seminar di atas KM Lambelu dari Jakarta ke Surabaya, Sabtu (15/8) mengingatkan, Dengan 17.500 pulau, Indonesia menawarkan potensi luar biasa sebagai destinasi kapal pesiar. Selain itu beberapa operator kapal pesiar besar seperi Seabourn, Saga Cruises, Voyages of Discovery, dan lainnya telah mengkonfirmasi ketertarikannya untuk singgah di Indonesia pada tahun 2010.* |