-- Menanti Perhatian Perbankan di Industri Perkapalan -- -- Kabar Baik Dari Laut -- -- Pelayaran Antarpulau Hanya Untuk Kapal Berbendera Indonesia -- -- Geliat Industri Perkapalan Indonesia di Tengah Krisis -- -- NTT Kembali Gelar Lomba Mancing Internasional --
 
 
HOME PERJALANAN MARINA SOSOK TIPS
 
 


Kapal-kapal perang RI memeriahkan parade kapal perang dalam rangkaian Sail Bunaken 2009. Insert: Kapal induk UUS George Washington (Foto: alutsista.blogspot.com/manadominahasa.blogspot.com)

Parade Kapal Perang di Manado
Oleh : Sapto Adiwilowo
 
Kehadiran kapal perang asing dalam rangkaian Sail Bunaken 2009 mendorong kerja sama maritim yang lebih baik, khususnya terkait dengan masalah keamanan dan kesejahteraan bersama di bidang kelautan

----------------------------------

Terik matahari di Pelabuhan Bitung, membuat suasana siang itu cukup panas ketika 27 kapal perang berbagai jenis dan 165 kapal layar (yacht) dari sejumlah negara mulai bergerak dari Pelabuhan Bitung menuju Teluk Manado, Sulawesi Utara (Sulut), guna mengikuti "Sailing dan Flying Pass" pada Rabu (19/8).

Peserta diterima langsung Menko Polhukam, Widodo AS mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, serta sejumlah pejabat negara seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Panglima TNI Jend Joko Santoso, Gubernur Sulut SH Sarundajang, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Tedjo Edhy Purdijatno di panggung utama Teluk Manado. Juga dihadiri 122 jajaran Admiral (Laksamana) dari 33 negara peserta Sail Bunaken.

Kapal perang yang mengikuti acara tersebut diantaranya, USS George Washington, Cowpens CG-63, Fitzgerald DDG 61, Mustin DDG 89, McCambel DDG 85, semuanya dari Amerika Serikat. Kemudian Phuttaloetia Naphalai FF dan Rattanakosin FS441 (Thailand), HMS Echo dan INS Khukri P49 (Inggris), KD Kedah 171 dan KD Tunas Samudera (Malaysia), Manuel L Quezon PS 70 (Filipina), RSS Tenacious dan RSS Darling (Singapura).

Coast Guard Triton (Australia), INS Airavat (India), JDS Kashima, JDS Shimayuki, JDS Yuugiri (Jepang), Guang Zhou (Cina), ROKS Choi Young DDH, Dae Cheong (Korea), PNS Zulfiquar (Pakistan), FS La Somme (Perancis), HMNZS Canbterbury (Selandia Baru) serta enam KRI dari Indonesia.

Pimpin Parade
Kehadiran kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat, USS George Washington tak disia-siakan panitia. Kapal bertenaga nuklir ini didaulat untuk memimpin parade kapal perang dalam Indonesian Fleet Review sore ini. Kapal induk ini menurut Kepala Dinas TNI Angkatan Laut Laksamana Iskandar Sitompul. berada di formasi pertama bersama tiga kapal induk Amerika lainnya, yakni USS Cowpens, USS Fitzgerald, dan USS Mutsin. Di belakangnya menyusul 26 kapal perang dari berbagai negara membentuk lima divisi

Divisi pertama terdiri dari KRI Sulatan Hasanuddin, Phuttaloetia Naphlai, RSS Tenacious, HMAS Echo, dam HTMS Rattakosin. Selanjutnya, divisi kedua diisi KRI Ahmad Yani, Plan Guangzhou, INS Airavat, dan INS Khukri. Selanjutnya pada divisi ketiga terdiri dari KRI Sultan Iskandar Muda, HMAS Darwin, HMAS Succes, HMAS Leeuwin, dan HMNZS Carterbury.

Adapun KRI Slamet Riyadi ada pada divisi keempat. Kapal perang tersebut berkonvoi di samping Roks Choi Young, Roks Dae Cheong, dan FS La Somme. Pada divisi kelima ada KRI Fatahillah, PNS Zulfiquar, KD Kedah, dan BRP Quezon.

Divisi keenam atau divisi terakhir, tediri dari KRI Yos Sudarso, JDS Kashima TV, dan JDS Shimayuki. "USS Campbel juga ada berparade di divisi keenam," ujar Iskandar.

Kerjasama Maritim
Kahadiran kapal-kapal perang tersebut, menurut Panglima Angkatan Laut Amerika Serikat Gary Roughead telah mendorong kerja sama maritim yang lebih baik, khususnya terkait dengan masalah keamanan dan kesejahteraan bersama di bidang kelautan.

Kepada pers di Manado (18/8)., Sulawesi Utara, Roughead mengatakan, kehadiran lima armada laut Amerika Serikat, yakni kapal induk USS George Washington dan empat kapal perusak di Sulawesi Utara, merupakan keputusan politik Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama.

”Apa yang kami lakukan atas sepengetahuan Presiden, termasuk ketika kami ke sini,” ujar Roughead, salah satu dari 16 kepala staf angkatan laut asing yang hadir di Sail Bunaken.

Sebelumnya, Roughead didampingi belasan perwira tinggi Angkatan Laut Amerika Serikat mengikuti pertemuan tertutup dengan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Tedjo Edhy Purdijanto.

Roughead lebih lanjut mengatakan, pelaksanaan Sail Bunaken, telah memberi cakrawala baru bagi peningkatan kerja sama dan mencari solusi terbaik di masa depan. Karena itu katanya, gagasan Indonesia mengumpulkan sejumlah angkatan laut dari berbagai negara untuk melakukan pertemuan dan pembicaraan mengenai masa depan laut dunia sangat positif.

”Masalah laut sangat strategis dibicarakan bersama demi peningkatan keamanan dan kesejahteraan bersama negara-negara dunia,” ujar Roughead. Tetapi, lanjutnya, kerja sama angkatan perang dunia tentu akan selalu mengacu pada hukum internasional yang telah disepakati bersama, terutama terkait dengan batas-batas teritorial. Ia menambahkan, pertemuan dan pembahasan serupa pernah dilakukan armada perang Amerika Serikat di Eropa dan Cile, beberapa tahun silam.

Sebelum mengikuti parade kapal perang, kemarin (18/8) awak kapal perang asing yang berjumlah 2 500 orang mengikuti kirab kota. Mereka berpawai menggunakan kostum armada perang di Jalan Pantai Boulevard, Manado, sepanjang 3,5 kilometer.

Di samping itu, ada pula agenda kunjungan ke kapal induk USS George Washington. Sayang, kunjungan dibatasi pada rombongan pejabat, seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, sejumlah pejabat TNI AL, dan Muspida Sulawesi Selatan.

Indonesian Fleet Review adalah puncak acara Sail Bunaken 2009. Sejatinya, saat melintas Teluk Manado, kapal-kapal tersebut memberi penghormatan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi Yudhoyono absen karena memberi pidato kenegaraan di hadapan anggota Dewan Perwakilan Daerah.*

 

 
INDEKS BERITA

Menanti Perhatian Perbankan di Industri Perkapalan
Oleh : Sapto Adiwiloso
Pertumbuhan industri galangan kapal di Indonesia hingga kini masih tertatih-tatih. Salah satu kendalanya adalah keenganan perbankan nasional mengucurkan kredit.
 
Kabar Baik Dari Laut
Oleh : Sapto Adiwiloso
Industri pelayaran niaga dalam negeri semakin berkembang setelah diterapkannya asa cabotage. Sedang Departemen Perikanan dan Kelautan akan menenggelamkan atau membakar kapal-kapal asing ilegal yang melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia.
 
Pelayaran Antarpulau Hanya Untuk Kapal Berbendera Indonesia
Oleh : Sapto Adiwiloso
Asas cabotage yang segera diberlakukan mengharuskan penggunaan kapal berbendera Indonesia pada pelayaran antarpulau. Ini berarti membuka peluang bagi kapal-kapal berbendera Indonesia untuk mendapatkan kontrak yang lebih besar yang selama ini hanya dikuasai kapal-kapal berbendera asing. ---------------
 
Geliat Industri Perkapalan Indonesia di Tengah Krisis
Oleh : Sapto Adiwiloso
Krisis ekonomi global masih dirasakan industri perkapalan Indonesia. Pemanfaatan kapasitas produksi galangan kapal beru mencapai 50 persen. Bagaimana PT PAL Indonesia menyiasati krisis tersebut sehingga produksi masih dapat berlangsung? --------------------------
 
NTT Kembali Gelar Lomba Mancing Internasional
Oleh : Sapto Adiwiloso
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menggelar lomba memancing bertaraf internasional di sebuah selat yang terletak di antara Pulau Timor dan Pulau Rote. Hadiahnya pun cukup menggiurkan.
 
2010: Giliran Ambon Jadi Tuan Rumah
Oleh : Sapto Adiwiloso
Setelah sukses menggelar Sail Bunaken 2009, pemerintah Indonesia akan menggelar kembali perhelatan akbar di Ambon, Maluku pada 2010.
 
Pekik Kemerdekaan Dari Kapal Induk AS
Oleh : Sapto Adiwiloso
Sail Bunaken 2009 ditutup dengan Parade Kapal Perang dari berbagai negara. Tampil sebagai primadona pada acara itu yakni Kapal Induk USS George Washington. Mereka tak hanya berparade tetapi juga meneriakkan yel-yel: Indonesia Merdeka !
 
Parade Kapal Perang di Manado
Oleh : Sapto Adiwilowo
Kehadiran kapal perang asing dalam rangkaian Sail Bunaken 2009 mendorong kerja sama maritim yang lebih baik, khususnya terkait dengan masalah keamanan dan kesejahteraan bersama di bidang kelautan
 
Mengembalikan Kejayaan Bahari Indonesia
Oleh : Sapto Adiwiloso
Dua pemecahan rekor yang dicapai pada rangkaian Sail Bunaken 2009, yakni senam massal dan pengibaran bendera merah putih di dasar laut, diharapkan mampu membangkitkan semangat kebaharian.
 
SAIL BUNAKEN 2009: Kibaran Merah Putih di Bawah Laut
Oleh : Sapto Adiwiloso
"Dan khusus untuk upacara pengibaran bendera kebangsaan yang dilaksanakan di bawah laut, maka Indonesia merupakan negara pertama yang melakukannya di tingkat dunia," ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul.
 

 

 
  Indonesia Boat
 
  Redaksi | Suara Komunitas  
 
Copyright (c) 2009 “Boat Indonesia JAC” All rights reserved.