Krisis ekonomi global masih dirasakan industri perkapalan Indonesia. Pemanfaatan kapasitas produksi galangan kapal beru mencapai 50 persen. Bagaimana PT PAL Indonesia menyiasati krisis tersebut sehingga produksi masih dapat berlangsung?
--------------------------
Krisis ekonomi global masih dirasakan di kalangan industri galangan kapal dalam negeri. Data Departemen Perindustrian (Depperin) hingga saat ini mencatat pemanfaatan kapasitas produksi galangan kapal, baru mencapai 50 peren. Krisis membuat permintaan kapal baru, merosot. Disamping itu juga, disebabkan kalah bersaingnya produk kapal lokal dengan produk kapal buatan Cina.
Pemanfaatan kapasitas yang rendah itu telah berlangsung sejak tiga tahun lalu. Akibat krisis tersebut, kini kondisinya makin memburuk. Kondisi serupa juga dialami PT PAL Indonesia (Persero) yang mengalami pembatalan pesanan pembuatan kapal berukuran besar. Salah satunya, pemesanan dua kapal dry cargo vessel ukuran 24.000 DWT senilai US$ 40 juta.
Sementara itu, industri galangan kapal lokal tak mampu mengendalikan permintaan dalam negeri. Para konsumen cenderung membeli produk kapal dari luar negeri (Cina). Hal itu disebabkan produk kapal impor mendapatkan berbagai fasilitas, seperti pembebasan bea masuk (BM) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan biaya masuk produk bahan baku.
Depperin sendiri pada tahun 2000 telah memberikan fasilitas bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) senilai Rp 151 miliar. Namun hingga 18 Agustua 2009, realisasi penyerapannya baru mencapai 0,07% saja. Padahal pemerintah berharap, fasilitas BMDTP tersebut mampu membangkitkan industri galangan kapal lokal, terutama untuk menghadapi pemberlakuan asas cabotage di 2010 nanti.
Karena itu, produsen kapal meminta agar pemerintah membebaskan pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% atas kapal-kapal industri lokal seperti halnya kapal impor.
Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Perindo) Harsusanto mengatakan, pungutan PPN tersebut telah menyebabkan produk galangan kapal lokal sulit bersaing dengan buatan negara lain. Harga kapal pun jadi lebih mahal 10% dibanding negara lain.*
Menteri Perindustrian Fahmi Idris saat membuka acara Sampan (Semarak Mahasiswa Perkapalan) ITS dua tahun lalu di Surabaya mengatakan daya saing industri perkapalan kita di pasar internasional masih sangat lemah, kalau pun saat ini ada beberapa kapal milik luar negeri yang dibuat di galangan kapal di Indonesia, itu karena beberapa galangan kapal didunia sudah penuh.
Menperin saat itu mengatakan, lemahnya daya saing di pasar internasional itu disebabkan komponen-komponen kapal yang digunakan industri perkapalan di Indonesia masih didominasi produk impor
”Kondisi ini terjadi karena kurang kuatnya keterkaitan industri hilir dan hulu di sektor ini. Industri kapal tidak berdiri sendiri, harus didukung misalnya industri baja, mesin dan sumber daya. Nah di Indonesia keterkaitan antara industri-industri ini belum kuat,” katanya.
Menurut catatannya, saat ini hampir 60% komponen kapal masih impor, sisanya 40% baru menggunakan produk lokal. Bahkan, dari tahun ke tahun impor komponen mengalami kenaikan. Misalnya, bila tahun 2004 impor komponen kapal Indonesia sekitar Rp 32,79 juta dolar AS, tahun 2006 lalu mencapai 39,30 juta dolar AS.
PAL Indonesia Mampu Menyiasati
Di tengah gonjang-ganjing tersebut, PT PAL Indonesia (kendati ada pembatalan pemesanan pembuatan kapal, sebagaimana disebutkan di atas-RED), namun mampu menyelesaikan sebuah kapal tanker kimia pesanan sebuah perusahaan asal Italia bernama Mediterania Di Navigazione.
Direktur Utama PT PAL Har Susanto, ketika memimpin langsung peluncuran kapal tersebut, (3/9) menuturkan, Kapal Tanker 6200 dwt buatan PT PAL ini merupakan satu-satunya kapal yang dibuat di galangan dalam negeri dengan rancangan khusus untuk mengangkut bahan kimia dan material khusus sehingga bahan kapal-pun dibuat dari dasar super duplex.
Kapal tanker 6200 dwt sendiri merupakan kapal dengan panjang keseluruhan 100 meter dengan panjang antara garis tegak 95 meter, lebar 16,98 meter. Tinggi dek utama kapal 8,60 meter, sarat air 6,80 meter dengan kecepatan mesin 14,00 knot dan mampu untuk menampung 18 crew atau ABK kapal.
Kapal yang mulai dibangun setahun lalu itu berhasil diluncurkan di dermaga devisi kapal perang PT PAL tepat pukul 10.00 pagi dimana saat kondisi air laut sedang pada puncak pasang. “Kami bersyukur, di tengah keterpurukan keuangan, kita tetap mampu menyelesaikan kapal ini,” kata Har Susanto.
Har Susanto mengakui, untuk mewujudkan kapal tanker tersebut pihaknya terpaksa berhutang ke BNI sebesar 2,1 juta dolar. Tak hanya hutang ke BNI untuk terus bertahan hidup, PT PAL juga mengandalkan segera cairnya bantuan dari Perusahaan Penyelamat Aset senilai 44 juta dollar. “Yang dari Perusahaan Penyelamat Aset bulan ini akan cair,” terang Har.
Pemesanan kapal melalui PT PAL ini menurut, Paulo Cagnani, pemesan kapal dari Mediterania Di Navigazione didasarkan pada pertimbangan harga yang lebih murah dibanding dengan Korea, Jepang, Turki, dan Cina.
“Kapal buatan PT PAL Indonesia ternyata bisa bersaing dengan negara-negara tersebut dan harganya pun lebih murah,” ujarnya.
PT PAL sejak berdiri tahun 1939 setidaknya telah mampu merakit 259 kapal. Bahkan menurut penuturan Dirut, saat ini pihaknya tengah menyelesaikan sebanyak 18 set kapal yang rencananya akan rampung seluruhnya pada tahun 2010 yang akan datang. “Tujuh kapal tahun ini sudah selesai. Bahkan bulan ini satu kapal pesanan Angkatan Laut juga telah selesai dan bisa diserahkan ke dephan,” kata Har Susanto.
Masih bergeliatnya industri kapal di PT PAL Indonesia ini berkat masih adanya dukungan dana dari beberapa lembaga keuangan, bank dan non bank, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Ekspor Impor (Persero) dan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero). Hal itu tercermin ketika PT PAL Indonesia bersama para peminjam dana tersebut duduk bersama membahas dana pinjaman untuk pembangunan 14 kapal, di gedung Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), April 2009 lalu.** |