-- Menanti Perhatian Perbankan di Industri Perkapalan -- -- Kabar Baik Dari Laut -- -- Pelayaran Antarpulau Hanya Untuk Kapal Berbendera Indonesia -- -- Geliat Industri Perkapalan Indonesia di Tengah Krisis -- -- NTT Kembali Gelar Lomba Mancing Internasional --
 
 
HOME PERJALANAN MARINA SOSOK TIPS
 
 


Laut menjadi tumpuan masa depan

Saatnya Dunia Berpaling ke Laut
Oleh : Saptoadi
 
Presiden Yudhoyono saat membuka WOC 2009 di Grand Kawanua Convention Center (GKCC) Manado, Sulawesi Utara, (14/5) menegaskan, WOC tidak untuk menghasilkan suatu proses baru, namun untuk memperkuat dan melengkapi Kerangka kerja PBB untuk Konvensi Perubahan Iklim (United Nation Framework on Climate Change Conference).

Komunitas kelautan, kata dia, menginginkan agar masalah kelautan dapat menjadi bagian dari solusi global perubahan iklim yang masih dalam pembahasan. "Kami harus memastikan bahwa kebijakan kelautan yang sensitif dapat dimasukkan dalam rejim baru itu sehingga pendekatan kemanusiaan kepada tantangan perubahan iklim dapat komprehensif dan holistik," katanya.

Memang, prestasi yang diraih itu baru sebatas gebrakan awal. Masih banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan dalam menggalang dukungan internasional. Sebab target Indonesia selaku penggagas sekaligus tuan rumah WOC adalah mendorong dimensi kelautan agar dibahas dalam COP-15 Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai perubahan iklim (UNFCCC) telah mendekati kenyataan.

Ada dua pertemuan besar yang akan dipakai Indonesia untuk menggalang dukungan, sebelum terselenggaranya pertemuan di Kopenhagen tersebut yakni pertemuan Subsidiary Body from Scientific and Technological Advice (SBSTA) pada Mei 2009 di Bonn, Jerman dan Forum Panel Ahli Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) di Bali, Oktober mendatang.

“Indonesia dapat menggunakan forum-forum itu dalam menggalang dukungan internasional,” kata Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri sekaligus Kepala Negosiator RI Arif Havas Oegroseno.

Rangkaian kegiatan tersebut bermuara pada diadopsinya dimensi kelautan dalam perjanjian baru pasca Protokol Kyoto. Karena itu katanya, peta jalan menuju Kopenhagen tersebut, tidak mudah. Perlu penggalangan dukungan dan proyek contoh di dalam negeri.

Presiden Yudhoyono berharap jika Konvensi Perubahan Iklim di Kopenhagen mengadopsi pendekatan itu dan masyarakat internasional menjalankannya dengan baik maka kehidupan manusia akan memiliki masa depan yang lebih baik. "Ini merupakan kesempatan penting bagi kita untuk membuat pernyataan penting bagi masa depan laut, planet dan kemanusian, sebuah pesan yang akan terdengar hingga ke luar ruang konvensi ini," katanya.**

 

 
INDEKS BERITA

Menanti Perhatian Perbankan di Industri Perkapalan
Oleh : Sapto Adiwiloso
Pertumbuhan industri galangan kapal di Indonesia hingga kini masih tertatih-tatih. Salah satu kendalanya adalah keenganan perbankan nasional mengucurkan kredit.
 
Kabar Baik Dari Laut
Oleh : Sapto Adiwiloso
Industri pelayaran niaga dalam negeri semakin berkembang setelah diterapkannya asa cabotage. Sedang Departemen Perikanan dan Kelautan akan menenggelamkan atau membakar kapal-kapal asing ilegal yang melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia.
 
Pelayaran Antarpulau Hanya Untuk Kapal Berbendera Indonesia
Oleh : Sapto Adiwiloso
Asas cabotage yang segera diberlakukan mengharuskan penggunaan kapal berbendera Indonesia pada pelayaran antarpulau. Ini berarti membuka peluang bagi kapal-kapal berbendera Indonesia untuk mendapatkan kontrak yang lebih besar yang selama ini hanya dikuasai kapal-kapal berbendera asing. ---------------
 
Geliat Industri Perkapalan Indonesia di Tengah Krisis
Oleh : Sapto Adiwiloso
Krisis ekonomi global masih dirasakan industri perkapalan Indonesia. Pemanfaatan kapasitas produksi galangan kapal beru mencapai 50 persen. Bagaimana PT PAL Indonesia menyiasati krisis tersebut sehingga produksi masih dapat berlangsung? --------------------------
 
NTT Kembali Gelar Lomba Mancing Internasional
Oleh : Sapto Adiwiloso
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menggelar lomba memancing bertaraf internasional di sebuah selat yang terletak di antara Pulau Timor dan Pulau Rote. Hadiahnya pun cukup menggiurkan.
 
2010: Giliran Ambon Jadi Tuan Rumah
Oleh : Sapto Adiwiloso
Setelah sukses menggelar Sail Bunaken 2009, pemerintah Indonesia akan menggelar kembali perhelatan akbar di Ambon, Maluku pada 2010.
 
Pekik Kemerdekaan Dari Kapal Induk AS
Oleh : Sapto Adiwiloso
Sail Bunaken 2009 ditutup dengan Parade Kapal Perang dari berbagai negara. Tampil sebagai primadona pada acara itu yakni Kapal Induk USS George Washington. Mereka tak hanya berparade tetapi juga meneriakkan yel-yel: Indonesia Merdeka !
 
Parade Kapal Perang di Manado
Oleh : Sapto Adiwilowo
Kehadiran kapal perang asing dalam rangkaian Sail Bunaken 2009 mendorong kerja sama maritim yang lebih baik, khususnya terkait dengan masalah keamanan dan kesejahteraan bersama di bidang kelautan
 
Mengembalikan Kejayaan Bahari Indonesia
Oleh : Sapto Adiwiloso
Dua pemecahan rekor yang dicapai pada rangkaian Sail Bunaken 2009, yakni senam massal dan pengibaran bendera merah putih di dasar laut, diharapkan mampu membangkitkan semangat kebaharian.
 
SAIL BUNAKEN 2009: Kibaran Merah Putih di Bawah Laut
Oleh : Sapto Adiwiloso
"Dan khusus untuk upacara pengibaran bendera kebangsaan yang dilaksanakan di bawah laut, maka Indonesia merupakan negara pertama yang melakukannya di tingkat dunia," ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul.
 

 

 
  Indonesia Boat
 
  Redaksi | Suara Komunitas  
 
Copyright (c) 2009 “Boat Indonesia JAC” All rights reserved.