Taman Laut Nasional Wakatobi menyimpan 25 gugus terumbu karang, 750 species, 93 jenis ikan konsum dan hias. Kawasan ini sangat comportable untuk aktivitas wisata selam seperti surfing dan snorkeling, serta wisata memancing.
---------------------------
Kapal layar Ligth Foot, dari Australia, memasuki perairan Wakatobi. Raut muka Meicy pun sumringah. Ada dua hal penting yang membuatnya gembira, siang itu. Pertama, itulah kali pertama, menyinggahi Wakatobi yang selama ini dikenal memiliki taman laut terluas dan terindah di dunia. Kedua, hari itu, bertepatan dengan hari jadinya yang ke-40. Itulah kenangan terindah yang dirasakan saat mengikuti Sail Indonesia 2009.
"Saya merayakan hari ulang tahun ke-40 di Wakatobi. Saya tidak akan pernah lupa tentang Wakatobi-Indonesia. Ini sejarah dalam hidup saya karena dirayakan di Indonesia," kata Meicy.
Peserta Sail Indonesia lainnya, Keith Harding mengatakan kagum dengan keindahan terumbu karang Wakatobi dan sikap ramah masyarakatnya. "Kami berterima kasih atas penyambutan warga Wakatobi. Wakatobi terindah di dunia dan kami akan kembali mengunjungi Wakatobi," ujarnya disambut tepuk tangan.
Kabupaten Wakatobi merupakan salah satu destinasi Sail Indonesia 2009. Dipilihnya kabupaten yang beribukota di Wangi-Wangi itu, didasarkan pada kekayaan bahari yang melimpah. Wakatobi memiliki taman laut seluas 1,39 juta ha, dengan keanekaragaman hayati laut, skala dan kondisi karang, yang menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia. Di Taman Laut Wakatobi sendiri tersimpan 750 jenis terumbu karang. Ini lebih unggul dibandingkan Laut Karibia sebanyak 50 jenis dan Laut Merah sebanyak 300 jenis.
Sadar akan kekayaan bahari yang dimiliki, Bupati Wakatobi menyambut baik rencana singgahnya para peserta Sail Indonesia 2009 ke kabupaten yang luas wilayahnya 823 kilometer persegi itu.
“Pemerintah Kabupaten Wakatobi telah jauh-jauh hari mempersiapkan diri menyambut kedatangan peserta Sail Indonesia 2009. Mereka sadar bahwa kehadiran para peserta secara ekonomi berdampak positif. Karena itu kami senang, jalinan kerja sama yang telah kami bina selama ini mulai membuahkan hasil yang positif pula,” ujar Raymond T Lesmana, Ketua Yayasan Cinta Bahari Indonesia (YCBI), pemrakarsa kedatangan peserta Sail Indonesia 2009 di beberapa kabupaten/kota di Indonesia, ketika dihubungi www.indonesiaboat.com via telepon (27/8).
Bupati Wakatobi, Hugua yang dihubungi wartawan di Wangi-Wangi, ibukota Kabupaten Wakatobi (27/8) membenarkan bahwa di Wakatobi kini telah hadir 61 kapal layar dari berbagai negara. Di sana, mereka akan diajak mengikuti serangkaian kegiatan festival budaya Wakatobi-Sail Indonesia 2009.
Kedatangan mereka, kata Bupati membuktikan bahwa wisata bahari Wakatobi memikat dunia. "Mereka ini (wisatawan kapal layar) orang yang mapan ekonomi. Mereka datang menghibur diri dengan keindahan terumbu karang Wakatobi," katanya.
Visi yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatobi untuk menyambut peserta Sail Indonesia pun dicanangkan yakni : “Surga Nyata Bawah Laut di Segi Tiga Karang Dunia”.
Kekayaan Wisata Bahari Wakatobi
Perairan di sekitar Kepulauan Wakatobi telah lama ditetapkan sebagai Taman Laut Nasional. Keunggulan aset wisata ini, tak lain karena hamparan karang yang sangat luas disepanjang perairan dengan topografi bawah laut yang kompleks seperti bentuk slope, flat, drop-off, atoll dan underwater cave dengan biota laut yang beraneka ragam.
Kedalaman airnya bervariasi bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan berpasir dan berkarang, wilayah tersebut memiliki potensi yang cukup penting terutama keberadaan terumbu karang dan berbagai jenis biota laut yang beraneka ragam dengan nilai estetika dan konservasi yang tinggi.
Secara spesifik taman laut kepulauan Wakatobi memiliki ±25 buah gugusan terumbu karang dengan 750 species yang dikelilingi total 600 km2, Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili diantaranya Acropora formosa, A. hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp.
Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias diantaranya argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain.
Selain terdapat beberapa jenis burung laut seperti angsa-batu coklat (Sula leucogaster plotus), cerek melayu (Charadrius peronii), raja udang erasia (Alcedo atthis); juga terdapat tiga jenis penyu yang sering mendarat di pulau-pulau yang ada di taman nasional yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).
Wakatobi merupakan obyek wisata pantai yang sangat potensial untuk dikelola, tersebar diseluruh wilayah Wakatobi. Berdasarkan potensi tersebut, menjadikan kawasan ini sangat comportable untuk aktivitas wisata selam seperti surfing dan snorkeling, serta wisata memancing. Sehingga salah seorang jurnalis selam asing bernama Jacques Costeau menggelari Wakatobi sebagai tempat penyeleman terindah di dunia (Wakatobi is the finest diving site in the world).
Menyelam bisa dilakukan setiap saat, namun waktu yang terbaik dilakukan bulan April dan Desember karena cuaca cerah. Kondisi karang yang baik dapat dijumpai pada kedalaman 6 – 30 m dengan suhu 27 – 28 Derajat Celcius, disamping menyelam dan snorkelling, juga tersedia bottom glaa boat dan peralatan snorkelling.
Di Kabupaten Wakatobi juga terdapat masyarakat asli, yang mendiami sekitar Taman Laut Nasional. Mereka adalah suku laut yang akrab disebut sebagai suku Bajau. Menurut catatan Cina kuno dan para penjelajah Eropa, menyebutkan bahwa manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu.
Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.
Pulau Hoga (Resort Kaledupa), Pulau Binongko (Resort Binongko) dan Resort Tamia merupakan lokasi yang menarik dikunjungi terutama untuk kegiatan menyelam, snorkeling, wisata bahari, berenang, berkemah, dan wisata budaya.
Wakatobi Dive Resort
Wakatobi Resort Berlokasi di sekitar pantai asri dan menawam Pulau Onemobaa-Tomia, Kepulauan Wakatobi. Wakatobi Resort menawarkan penyeleman kelas dunia didukung oleh rumah karang yang spektakuler serta kemudahan akses ke tempat penyelaman dengan keanekaragaman kehidupan bawah laut. Ditambah lagi dengan keamanan dan kenyamanan dalam melakukan aktifitas selam yang sangat terjamin dengan wilayah laut yang terproteksi.
Wakatobi Resort juga memiliki staff yang berpengalaman dan berpengetahuan dalam pelayanan wisata, dengan sajian menu makanan yang sehat dan keanekaragaman rasa, serta dilengkapi dengan perangkat komunikasi satelit dengan akses internet 24 jam, sehingga Wakatobi Dive Resort melayani tamu dengan pelayanan standar dunia.
Resort ini juga dilengkapi dengan lapangan terbang Maranggo di pulau Tomia dengan jalur penerbangan yang menghubungkan pulau Bali ke Tomia akan membuat perjalanan ke Wakatobi semakin mudan dan nyaman.
Wisatawan yang ingin menghabiskan waktu beberapa saat di kawasan ini, Biro Perjalanan Wisata PT. Wakatobi Dive Resort dan Badan Pengelola, Wallacea siap memenuhi kebutuhan diving setiap wisatawan mulai dari kelengkapan sampai dengan struktur diving.
Untuk mencapai Taman Laut Nasional Wakatobi, dari Kendari ke Bau-Bau menggunakan kapal cepat regular. Setiap hari dilayani dua kali dengan lama perjalanan lima jam atau setiap hari dengan kapal kayu selama 12 jam. Dari Bau-bau ke Lasalimu naik kendaraan roda empat selama dua jam, lalu naik kapal cepat Lasalimu-Wanci selama satu jam atau kapal kayu Lasalimu-Wanci selama 2,5 jam. Wanci merupakan pintu gerbang pertama memasuki kawasan Taman Nasional Wakatobi. Sedang musim kunjungan terbaik: bulan April s/d Juni dan Oktober s/d Desember setiap tahunnya.*** |