-- Uki Dasuki: KENANGAN BERSAMA PAK HARTO -- -- dr.H.J.Roeslani Safeni: UKIR PRESTASI DI USIA SENJA -- -- Nadine Chandrawinata: INGIN MENIKAH DI DALAM LAUT --
 
 
HOME PERJALANAN MARINA SOSOK TIPS
 
 


UKI DASUKI: Menghabiskan separuh hidupnya di dermaga Pelabuhan Ratu

Uki Dasuki: KENANGAN BERSAMA PAK HARTO
Oleh : Sapto Adiwiloso
 
Pagi beranjak siang. Sabtu (30/5) itu, kesibukan di Dermaga II, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, tempat bersandarnya kapal-kapal pesiar dari berbagai ukuran, mulai meningkat. Hilir mudik para Anak Buah Kapal (ABK) juga broker-broker penyewaan kapal pesiar, menambah ramainya suasana. Apalagi, tak jauh dari dermaga tersebut, ada lokasi yang dijadikan sebagai tempat start dan finish Lomba Mancing Piala Presiden ke-XI.

Sebagian dari kapal pesiar yang sandar di situ juga digunakan peserta lomba. Sisanya, milik pribadi dan tidak disewakan. Seperti kapal pesiar mewah berukuran sekitar 20 X 4 meter, milik seorang warganegara Australia yang sandar di dermaga tersebut. Kapal tersebut jarang digunakan, karena sang pemilik juga jarang datang ke Pelabuhan Ratu. Namun tetap dirawat penjaganya dengan baik.

Di sebelahnya, parkir kapal milik Pemkab Sukabumi yang menggunakan satu motor. Lalu kapal cepat, Wahoo yang dikapteni Ateng. Kapal tersebut bertenaga 2 X 140 PK. Tak jauh dari situ, terdapat kapal bernama Aleta. Kapal bertenaga 2 X 200 PK itu dapat disewa dengan harga Rp 5 juta/hari. Juga kapal bernama Ubur-Ubur yang bertenaga 2 X 40 PK. Ubur-ubur disewa dengan harga Rp 3,5 juta/per hari. Masih banyak kapal-kapal lain yang sandar, namun tidak disewakan.

Di sebuah buritan kapal yang tengah sandar, beberapa crew kapal pesiar tengah bercengkerama. Satu diantaranya bernama Uki Dasuki. Pria kelahiran Bayah, Banten, 66 tahun lalu nampak akrab dengan Anak Buah Kapal (ABK) yang usianya jauh lebih muda. “Mereka ini anak-anak binaan saya yang saya didik menjadi ABK di kapal pesiar,” ujarnya. Konon, ABK tersebut merupakan nelayan-nelayan tradisional yang telah “naik kelas”.

Uki pun dulunya hanya seorang nelayan kecil di Pelabuhan Ratu. Saat itu, belum ada kapal-kapal bermesin. Bersama nelayan lainnya, ia rengkuh dayung dan berlayar hingga ke laut lepas. Kehidupan nelayan, yang saat itu masih sering berbalut duka, dijalaninya dengan tabah. Namun penghasilan sebagai nelayan tradisional semakin berkurang dengan hadirnya kapal-kapal nelayan bermesin. Lambat laun, kapal-kapal nelayan tradisional, mulai terpinggirkan. Saat itu pula, penghasilannya semakin menurun.

Ia sadar hidup harus terus bergulir. Maka ia pun mencoba peruntungan nasib, bekerja di kapal pesiar. Bermula menjadi seorang broker. Seringnya bergaul dengan pemilik kapal, menghantarkannya sebagai petugas penjaga dan perawat kapal-kapal pesiar yang sandar di pelabuhan tersebut.

Kini dipundaknya ada dua kapal pesiar jenis long boat bermesin Yamaha dan berkecepatan 2 X 40 PK yang harus dipelihara dan dirawat. Kapal tersebut, milik Joseph dan Halim, paman Yapto Suryosumarno – tokoh Organisasi Massa (Ormas) Pemuda Pancasila yang juga pendiri Partai Patriot.

Tatapannya menerawang ke masa lalu ketika masih dipercaya sebagai ABK kapal milik Jantje Lim Poo atau Yani Haryanto, seorang mitra erat bisnis Alm.Soeharto yang tinggal di Jalan Cendana No.15, Jakarta Pusat. Saat itu, hidupnya serba terjamin. Tanpa terasa telah 34 tahun ia melayani pengusaha terbesar ketiga di Asia, saat itu.

Jantje Lim juga kerap memancing bersama Pak Harto. Uki pun tak jarang diminta mendampingi Pak Harto ketika memancing bersama kroni-kroninya. Kapal yang sering digunakan keluarga Cendana untuk memancing bernama Srikandi. Bermesin dua, masing-masing bertenaga 115 PK.

“Saya seperti mimpi ketika mendampingi Pak Harto. Bayangkan, sayalah yang mempersiapkan alat pancing, memasang umpan dan menarik hasil pancingan, jadi posisi saya dengan beliau begitu dekat,” ujarnya bangga.

Untuk bisa melayani seperti itu, ia pun harus melalui proses pemeriksaan yang ketat. Maklum, yang ia dampingi adalah seorang presiden yang sangat disegani saat itu. Uki mengaku sangat terkesan dengan kepribadian Pak Harto yang sangat ramah. “Di tengah perjalanan kami sering mengobrol. Beliau pun tak pernah lupa menanyakan tentang keadaan keluarga,” katanya.

Tentu saja kedatangan orang nomor satu di negeri ini, dilakukan secara diam-diam. Masyarakat sekitar tidak ada yang mendengar berita kedatangannya. Tahu-tahu Pak harto sudah ada di dermaga. Namun tidak bagi Uki. Ia jauh-jauh hari, sudah diberitahu. Tak jarang ia juga menemani para pawang yang hendak melakukan survey di perairan yang bakal dijadikan lokasi mancing Pak Harto.

Ada pengalaman menarik ketika mendampingi tim survei di perairan Kalimantan Barat. Kapal yang ditumpangi ternyata tak memasang bendera. Petugas Syahbandar pun lalu mendatangi kapal tersebut. “Tadinya kami sempat dipersulit, namun setelah tahu bahwa kami tengah melakukan survei mancing untuk Pak Harto, maka kami pun lantas dikawal,” ujarnya mengenang.

Dalam setahun, Uki biasa melayani mancing selama tujuh kali. Titik pemancingan yang disukai Pak harto diantaranya, Pelabuhan Ratu, Selat Sunda, Ujung Kulon, Ujung Kerawang. Di pelabuhan Ratu saja ada beberapa titik lokasi mancing seperti Ujung Genteng, Pangumbahan.

Setiap lebaran, kakek lima cucu ini selalu mendapat bingkisan dari Cendana yang diantar langsung ke rumah. Ia pun mengaku sering diminta datang ke Cendana untuk sekedar makan. Ia merasakan saat itu bak hidup di surga. Pengalaman itu begitu melekat. Ia pun terus menuai berkat, setelah dipercaya melayani orang-orang terkenal di negeri ini selain Pak Harto. Sebut saja misalnya, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Edy Sudrajat, Surono, Adam Malik hingga Yapto Suryosumarno.

Waktu silih berganti. Jaman keemasan itu pun perlahan surut, seiring berpulangnya “orang-orang besar” ke haribaanNya. Jantje Lim, yang telah dilayaninya selama 34 tahun, berpulang beberapa puluh tahun lalu. Demikian juga Pak Harto. Sejak itu, Uki mulai menuai badai kehidupan.

Pengabdiannya dengan Jantje Lim yang telah ditekuni sejak 34 tahun, berakhir pilu. Rumah dan pesangon yang dijanjikan, tak kunjung datang. Demikian pula ketika penguasa Orde Baru itu tumbang, Uki pun mulai terlupakan. Meski demikian, Uki berupaya tetap tegar dalam menjalani roda kehidupan. Ia kini harus puas dengan bayaran Rp 700 ribu sebagai penjaga dan perawat kapal.

Satu-satunya harapan yang masih tersisa kini, ingin menjalani hidup lebih rileks lagi dengan berjualan kecil-kecilan di rumah. “Saya sudah tua, biar saja anak-anak muda itu yang meneruskan jejak Bapak,” ujarnya sambil menunjuk segerombolan anak muda yang masih asyik bercengkerama. Namun ia bimbang, karena modal untuk dagang hingga saat ini belum tersedia.

Gerimis datang. Uki pun bergegas menepi ke sebuah warung. Secangkir kopi terhidang. Sebatang rokok kesukaan, dihisapnya dalam-dalam. Ah…..andai waktu bisa diputar kembali.**

 

 
INDEKS BERITA
Uki Dasuki: KENANGAN BERSAMA PAK HARTO
Oleh : Sapto Adiwiloso
Pagi beranjak siang. Sabtu (30/5) itu, kesibukan di Dermaga II, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, tempat bersandarnya kapal-kapal pesiar dari berbagai ukuran, mulai meningkat. Hilir mudik para Anak Buah Kapal (ABK) juga broker-broker penyewaan kapal pesiar, menambah ramainya suasana. Apalagi, ta
 
dr.H.J.Roeslani Safeni: UKIR PRESTASI DI USIA SENJA
Oleh : Sapto Adiwiloso
Raut muka dr.H.J.Roeslani Safeni pada acara penutupan Turnamen Mancing Piala Presiden ke-XI di Hotel Bunga Ayu, Pelabuhan Ratu, Sukabumi Minggu sore (31/5) berbinar. Tim Gandaria Civell Fishing Club yang dipimpinnya tak hanya mampu menyabet gelar Juara I tetapi juga dinobatkan sebagai juara umum dan
 
Nadine Chandrawinata: INGIN MENIKAH DI DALAM LAUT
Oleh : Sapto Adiwiloso
Siapa tak mengenal Nadine Chandrawinata, mantan Puteri Indonesia 2005 yang amat mencintai laut. Bagi Nadine, laut ibarat rumah keduanya. Sejak kecil, dara kelahiran Hannover, Jerman, 8 Mei 1984 sudah cinta berat dengan laut.
 
( Arsip Berita )

 

 
  Indonesia Boat
 
  Redaksi | Suara Komunitas  
 
Copyright (c) 2009 “Boat Indonesia JAC” All rights reserved.